Postingan

halaman kosong dengan kursor yang berkedip-kedip

Gadis itu menatap halaman kosong dengan kursor yang berkedip-kedip di hadapannya. Ia harus menulis. Ia harus kembali membangkitkan kata-kata yang sudah lama mati dalam otaknya, juga jari-jari yang sudah lama tidak menari di atas keyboard . Ia harus menulis sesuatu. Bagaimana mungkin ia mewujudkan mimpinya menjadi penulis jika ia tak menulis apapun? Namun malangnya, sudah hampir satu jam ia terpaku menatap layar tersebut, tapi ia sama sekali buta tentang apa yang harus ia tulis. Objek tulisan satu-satunya yang biasa membuat ia mampu merangkai kata-kata manis dan mengiris sudah tak ada lagi. Ia bingung. Sebenarnya, ada banyak hal lain yang ingin ia tuliskan. Setiap malam, ketika lampu sudah dimatikan, selimut sudah dirapatkan ke badan, dan ia bersiap untuk bermimpi, banjiran kata-kata meluncur begitu saja di otaknya. Terlalu banyak kata. Terlalu penuh cerita. Namun ia terlalu malas untuk bangkit dan menyadur semuanya dalam bentuk tulisan. Ia membawa kata-kata itu ikut tidu...

Catatan 8 Bulan Mencari Kehidupan

Gambar
Hari ini 8 Agustus 2015. Tepat 8 bulan sejak saya ditasbihkan sebagai sarjana, 8 Desember 2014. Delapan bulan. Rasanya waktu benar-benar begitu cepat berlalu, sementara saya hingga detik ini masih belum sampai pada tujuan utama tahun ini: punya pekerjaan. Dulu, tiap bertemu orang yang belum dapat pekerjaan dalam waktu yang lama, sering tebersit dalam hati ‘ kasian ya, masih nganggur,” atau ‘ kenapa ya dia belum dapat kerja’ . Tapi, setelah mengalaminya sendiri, ternyata tidak seberat yang dibayangkan orang-orang. Mungkin begitu juga yang mereka rasakan. Orang-orang mungkin risih dan berempati, tapi sesungguhnya, saya biasa-biasa saja. Bukannya tidak ada tekanan. Tiap kali melihat teman-teman sepermainan yang sudah sukses, tentu ada rasa iri, keinginan untuk segera dapat pekerjaan, dan punya kehidupan sendiri. Bahkan ada masa-masa ketika saya merasa benar-benar down dan putus asa, mengapa mereka tak butuh waktu lama untuk dapat kerja sementara saya masih begini-begini saja...

Tentang Menjadi Tokoh Utama

Gambar
Sore ini aku habiskan dengan membaca blog beberapa rekan ditemani suara merdu Roy Kim dan album Home -nya. Ternyata, hampir di semua blog yang aku baca, selalu ada tulisan yang ditujukan untuk seseorang. Kebanyakan secara diam-diam. Tanpa diketahui orang yang bersangkutan. Mereka memang punya kemampuan menulis yang luar biasa indahnya, hingga saat membacanya aku berpikir, betapa beruntungnya mereka yang jadi objek tulisan ini . Sebenarnya tak jauh beda denganku. Hampir seluruh isi blog-ku juga bercerita tentang seseorang, tanpa ia ketahui. Dengan bahasa yang tak kalah hati-hatinya aku rangkai. Seseorang yang tidak akan pernah membaca blog-ku. Lalu muncul satu pertanyaan. Adakah seseorang di luar sana, yang mungkin juga menulis tentangku, tanpa aku ketahui? Hmm..mungkin pertanyaan ini terkesan agak narsis. Percayalah aku tidak mengemis. Hanya sekadar pertanyaan iseng. Sebagai seseorang yang gemar menulis tentang orang lain, rasanya muncul keinginan untuk menjadi objek tuli...

Sebuah Lagu untuk Lelaki Hujan

Gambar
Entah sudah berapa kali hujan turun sejak aku tak lagi merindukanmu, lelaki dalam kamuflase hujan. Entah sudah berapa lama aku tak lagi terpaku memandangi hujan sembari mengenangmu, engkau yang selalu hadir kala hujan. Hari ini sudah 998 hari sejak terakhir kali aku melihatmu. Tanpa sadar, segala kebiasaanku yang berbasis dirimu, terutama mengenang dan merindu, terkikis begitu saja. Bukan berarti aku lupa. Tidak, mungkin tidak akan pernah. Hanya saja segalanya kini terkubur dalam timbunan ingatan, ditimpa oleh ingatan-ingatan lain. Sesekali tentu aku masih rindu. Sesekali kau pun masih datang ke mimpiku. Namun intensitasnya semakin jarang. Dan respon yang aku berikan tak lagi seemosional dulu. Tiap kali aku memimpikanmu, aku hanya menghela napas, teringat secuil masa lalu, kemudian aku melanjutkan hariku seperti biasa hingga aku lupa dengan detail ceritanya. Bukan aku yang kuat dan telah berhasil terlepas darimu. Tapi keadaanlah yang memaksaku begini. Aku tak bisa bilang a...